Jamaah dari 120 Negara Ikut Pelaksanaan Haji 2021

Jamaah haji dari 120 negara akan ikut menunaikan haji tahun ini. Hal ini disampaikan langsung oleh Komite Pusat Haji Arab Saudi. Komite ini mengatakan total jamaah tahun ini adalah 60 ribu orang. Mereka merupakan Muslim yang berasal dari 120 negara dan saat ini tinggal di Kerajaan Arab Saudi.

3.000 bus disebut akan disiapkan untuk mengangkut peziarah. Setiap busnya hanya akan diisi 20 penumpang pada satu waktu, karena aturan keselamatan dan keamanan dalam menghadapi Covid-19.

Kementerian Haji dan Umrah Saudi sendiri mengatakan pihaknya siap untuk musim haji tahun ini, Senin (5/7) lalu. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Abdulfattah Mashat, menekankan percepatan pengerjaan untuk menyiapkan tempat suci di Kerajaan dalam beberapa hari mendatang.

Tak hanya itu, ia juga meminta semua sektor terkait agar menyelesaikan persyaratan, agar dapat menerima peziarah tepat waktu.

“Kementerian Haji dan Umrah telah lama menyusun rencana strategis dan operasional terkait kegiatan haji bekerjasama dengan lebih dari 30 entitas, dari berbagai sektor swasta, pemerintah dan keamanan,” kata dia.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan di //Radio Riyadh//, Mashat mengatakan tempat tinggal peziarah di tempat-tempat suci sudah siap. Kesiapan yang sama juga terlihat di titik-titik berkumpul di sekitar Makkah.

Ia menekankan otoritas terkait telah menyiapkan rencana terpadu untuk membuat musim tahun ini aman dan terjamin. Tenda jamaah di Arafah, serta fasilitas di Mina dan daerah lain, di mana jamaah akan tinggal di Muzdalifah semuanya telah diperiksa.

“Lingkungan tahun ini akan berbeda dengan musim haji sebelumnya. Ini akan menjadi lingkungan yang sehat, memastikan jarak sosial antara para peziarah selama perjalanan. Kamp-kamp besar memungkinkan pergerakan udara terus menerus, sehingga menghilangkan risiko apa pun,” kata Mashat.

Dia menunjukkan Pemerintah Saudi telah menciptakan jaringan transportasi terintegrasi, yang menghubungkan semua situs yang relevan di seluruh wilayah.

Tahun ini Arab Saudi memutuskan untuk membatasi haji bagi warga negara dan penduduk di dalam Kerajaan. Keputusan ini diambil dengan alasan kekhawatiran atas pandemi Covid-19. 

*ihram.co.id/ICA

Kenapa Tak Ada Lantai 13 di Hotel dan Bangunan Lain?

Anda mungkin kerap bertanya-tanya kenapa hampir tidak ada tombol 13 dalam elevator atau lift hotel. Jawabannya sangat sederhana, hal itu karena lantai 13 sengaja dibuat tidak ada.

Angka 13 selalu identik dengan hal mistis atau kesialan. Karena itu, hampir tak ada bangunan usaha, seperti hotel, yang memiliki lantai 13. One should test your own chances online casino book of ra fixed. Ketakutan berlebih terhadap angka 13 disebut triskaidekaphobia.

BACA JUGA

Dilansir Travel and Leisure, 15 Juni 2021, angka 13 di tombol lift dianggap sebagai sebuah fobia para manajemen hotel yang berhubungan dengan angka kurang beruntung. Selain dari legenda nenek moyang, semakin banyak orang mengalami triskaidekaphobia setelah film horor slasher ‘Friday the 13th’ yang dirilis pada 1980.

Tidak diketahui secara pasti, kapan triskaidekaphobia menjadi “tren”. Namun, sejak film itu dirilis, semakin banyak hotel yang mengganti penulisan lantai 13 dengan lantai 12A, 12B atau 14A, walau mereka masih memiliki lantai dengan urutan ke-13 dalam bangunannya.

Mereka meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin langkah tersebut telihat sepele. Bagi para ahli numerologi, 13 memang dianggap sebagai angka sial di mana letaknya tepat setelah angka 12 yang dikenal dengan angka lengkap.

Contohnya, dalam satu tahun terdapat 12 bulan, 12 zodiak, 12 dewa Olympus, 12 pekerja Hercules, dan lainnya. Sementara angka 13 diasosiasikan dengan nasib buruk karena angka ini punya kekurangan yang akhirnya menimbulkan keresahan.2 dari 5 halaman


Esensi Menyeramkan

Otoritas penerbangan Saudi menghubungkan boarding pass dengan aplikasi kesehatan

Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) telah mengumumkan selesainya penautan penerbitan boarding pass penerbangan domestik untuk semua maskapai nasional dengan status kesehatan di aplikasi Tawakkalna.

Boarding pass dikeluarkan secara elektronik untuk penumpang yang statusnya dalam aplikasi adalah “kebal”, “kebal dengan dosis pertama”, “kebal dengan pemulihan”, atau “tidak ada catatan infeksi”.

Inisiatif ini merupakan hasil kerja sama dengan lembaga pemerintah — yaitu Kepresidenan Keamanan Negara, Otoritas Data dan Kecerdasan Buatan Saudi, dan Kementerian Kesehatan — dan dengan maskapai nasional.

Tawakkalna diluncurkan tahun lalu untuk membantu melacak infeksi COVID-19. Sejak itu telah diperbarui untuk memasukkan informasi vaksinasi dan laporan status infeksi. Ini juga berfungsi sebagai “paspor” COVID-19.

Sebelumnya, GACA mengatakan bahwa semua pelancong asing dan pendampingnya yang bepergian ke Kerajaan harus menyelesaikan pendaftaran untuk data imunisasi COVID-19 mereka sebelum keberangkatan. Pendaftaran ini berlaku untuk semua warga negara dari negara-negara Dewan Kerjasama Teluk, pemegang visa baru, penduduk, dan pendamping mereka, baik yang diinokulasi maupun yang tidak divaksinasi.

(arabnews.com/ICA)