Kemenag Susun 8 Skema Perjalanan Ibadah Umroh Jamaah RI

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief mengatakan pihaknya telah menyusun delapan skema penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah 1443 Hijriah bagi calon jemaah asal Indonesia di tengah pandemi virus corona.
Hal itu sebagai langkah persiapan pemerintah usai pemerintah Arab Saudi telah mengeluarkan nota diplomatik mengizinkan pelaksanaan ibadah umrah bagi jemaah Indonesia.
Skema pertama, kata Hilman, jemaah umrah asal Indonesia tetap mengikuti persyaratan atau ketentuan dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Skema kedua, ia mengatakan jemaah wajib mengikuti protokol kesehatan secara ketat.

“Baik sebelum keberangkatan, saat perjalanan ibadah umrah hingga kembali ke tanah air,” kata Hilman saat ditemui di Hotel Orchardz, Kemayoran, Jakarta, Senin (18/10).

Skema ketiga, Hilman memastikan pemberangkatan/kepulangan jemaah akan dilaksanakan secara terpadu melalui satu pintu, yakni melalui Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Hal itu bertujuan untuk pengendalian dan pengawasan penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.

“Skema keempat yakni penerbangan yang diizinkan untuk mengangkut jemaah umrah beserta barang bawaannya diusulkan menggunakan penerbangan langsung atau (direct flight) Indonesia-Arab Saudi PP,” kata dia.

Skema kelima, Hilman mengatakan para calon jemaah wajib melaksanakan tes swab PCR sebelum keberangkatan secara terpadu. Para jemaah juga akan dikarantina di Asrama Haji sebelum keberangkatan dan sesampainya di Tanah Air.

Skema keenam yakni aplikasi PeduliLindungi Kemenkes akan terintegrasi dengan aplikasi Tawakalna milik Arab Saudi dan Siskopatuh milik Kemenag.

“Ini sudah bisa didaftar dan mereka bisa dicek kesehatannya. Hal ini guna memudahkan penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah,” kata dia.

Skema ketujuh, Hilman memastikan barcode sertifikat vaksin akan dicetak dan dibagikan kepada jemaah umrah. Upaya itu dilakukan agar barcode atau kode batang vaksin milik calon jemaah umrah nantinya bisa terbaca oleh mesin pindai yang ada di Arab Saudi saat penyelenggaraan ibadah umrah nanti.

“Skema terakhir terkait perubahan biaya referensi perjalanan ibadah umrah mengikuti perkembangan dan biaya protokol kesehatan di kedua negara,” kata dia.

Lebih lanjut, Hilman mengatakan delapan skema tersebut telah disampaikan kepada para perwakilan Panitia Penyelenggara Ibadah Umrah (PPIU). Hal itu untuk mendapatkan masukan positif untuk melaksanakan implementasinya di lapangan.

Arab Saudi Umumkan Kesuksesan Pelaksanaan Haji 2021 Tanpa Penularan COVID-19

Arab Saudi telah selesai melaksakan rangkaian ibadah Haji 2021. Pada musim Haji kali ini, pemerintah Arab Saudi masih menerapkan berbagai pembatasan untuk mencegah penularan Virus Corona COVID-19.

Dengan membatasi jumlah jemaah sebanyak 60 ribu, Pemerintah Arab Saudi mengumumkan keberhasilan pelaksanaan Haji 2021 yang bebas dari penularan COVID-19 dan penyakit lainnya, seperti dilansir Saudi Press Agency, Jumat (23/7/2021)

Menteri Kesehatan Arab Saudi Tawfiq Al-Rabiah mengaitkan keberhasilan ini dengan sistem fasilitas kesehatan yang terintegrasi di tempat-tempat suci, ambulans yang sangat lengkap, dan tim yang berkualifikasi, menurut laporan itu.

Tawfiq menambahkan, pembatasan jumlah jemaah haji dalam negeri selama musim Haji 2021 menjadi 60.000 turut berkontribusi pada kesuksesan tersebut.

Sejak 2020, Arab Saudi hanya mengizinkan calon jemaah haji yang sudah berada di dalam negeri untuk melakukan ibadah haji guna mencegah penyebaran COVID-19.

327 WNI Ikut Haji 2021

Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di Arab Saudi tercatat turut mendaftar sebagai calon jemaah dan akan mengikuti 327 orang yang bakal ikut serta dalam ibadah haji 2021.

“Saat ini sudah terdata 327 WNI yang menjadi jemaah haji tahun ini. Mereka adalah WNI yang selama ini sudah menetap di Arab Saudi dan ikut mendaftar sebagai calon jemaah sesuai prosedur yang diberlakukan Saudi,” kata Konsul Haji, KJRI Jeddah Endang Jumali.

Endang menjelaskan, jemaah haji yang sudah terdata tersebut terdiri atas unsur diplomat yaitu dari KBRI dan KJRI, Pekerja Migran Indonesia (PMI), serta mahasiswa Indonesia dan sejumlah WNI lainnya yang sudah lama menetap di Saudi.

“Proses pendataan WNI yang berhaji tahun ini masih dilakukan. Data kita akan terus berkembang. Mungkin baru final saat wukuf di Arafah atau menginap di Mina. Jadi masih memungkinkan untuk terus bertambah,” katanya.

(sumber: https://www.liputan6.com)

Jamaah dari 120 Negara Ikut Pelaksanaan Haji 2021

Jamaah haji dari 120 negara akan ikut menunaikan haji tahun ini. Hal ini disampaikan langsung oleh Komite Pusat Haji Arab Saudi. Komite ini mengatakan total jamaah tahun ini adalah 60 ribu orang. Mereka merupakan Muslim yang berasal dari 120 negara dan saat ini tinggal di Kerajaan Arab Saudi.

3.000 bus disebut akan disiapkan untuk mengangkut peziarah. Setiap busnya hanya akan diisi 20 penumpang pada satu waktu, karena aturan keselamatan dan keamanan dalam menghadapi Covid-19.

Kementerian Haji dan Umrah Saudi sendiri mengatakan pihaknya siap untuk musim haji tahun ini, Senin (5/7) lalu. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Abdulfattah Mashat, menekankan percepatan pengerjaan untuk menyiapkan tempat suci di Kerajaan dalam beberapa hari mendatang.

Tak hanya itu, ia juga meminta semua sektor terkait agar menyelesaikan persyaratan, agar dapat menerima peziarah tepat waktu.

“Kementerian Haji dan Umrah telah lama menyusun rencana strategis dan operasional terkait kegiatan haji bekerjasama dengan lebih dari 30 entitas, dari berbagai sektor swasta, pemerintah dan keamanan,” kata dia.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan di //Radio Riyadh//, Mashat mengatakan tempat tinggal peziarah di tempat-tempat suci sudah siap. Kesiapan yang sama juga terlihat di titik-titik berkumpul di sekitar Makkah.

Ia menekankan otoritas terkait telah menyiapkan rencana terpadu untuk membuat musim tahun ini aman dan terjamin. Tenda jamaah di Arafah, serta fasilitas di Mina dan daerah lain, di mana jamaah akan tinggal di Muzdalifah semuanya telah diperiksa.

“Lingkungan tahun ini akan berbeda dengan musim haji sebelumnya. Ini akan menjadi lingkungan yang sehat, memastikan jarak sosial antara para peziarah selama perjalanan. Kamp-kamp besar memungkinkan pergerakan udara terus menerus, sehingga menghilangkan risiko apa pun,” kata Mashat.

Dia menunjukkan Pemerintah Saudi telah menciptakan jaringan transportasi terintegrasi, yang menghubungkan semua situs yang relevan di seluruh wilayah.

Tahun ini Arab Saudi memutuskan untuk membatasi haji bagi warga negara dan penduduk di dalam Kerajaan. Keputusan ini diambil dengan alasan kekhawatiran atas pandemi Covid-19. 

*ihram.co.id/ICA